Clairvoyance 3 - Gerbang Dimensi - Isi Buku
KATA PENGANTAR
Isi buku ini bukanlah fiksi, walau setelah membacanya, sebagian orang mungkin akan menganggapnya sebagai fiksi. Saya menulis buku ini murni berdasarkan pengalaman pribadi, jadi segala hal yang saya ceritakan adalah benar terjadi walau tidak semuanya dapat dipahami dengan mudah oleh semua orang, terutama yang memiliki kemampuan terbatas untuk berpikir secara logika.
Sebelum anda mulai membaca Bab I dan seterusnya, saya merasa perlu memberikan peringatan kepada anda: bila anda adalah seorang yang lebih MEMENTINGKAN AQIDAH, KEPERCAYAAN, TRADISI, BUDAYA dan hal-hal sejenisnya, maka saya menyarankan agar anda TIDAK MEMBACA isi buku ini, karena isi buku ini berpotensi mengganggu atau merusak kenyamanan hidup anda. Bila anda tetap merasa penasaran dan ingin membacanya, sebaiknya anda menganggap sedang membaca sebuah DONGENG dan setelah selesai dibaca anda sebaiknya MELUPAKAN apa yang anda baca.
Akan tetapi bila anda adalah seorang yang lebih mementingkan logika, nalar dan pemahaman lewat analisa, maka saya sarankan anda membaca isi buku ini karena akan dapat membantu mengembangkan batas-batas nalar anda sehingga mencapai batas-batas baru yang sebelumnya mungkin tidak pernah terbayangkan oleh anda. Selain itu, bila anda telah menguasai keahlian clairvoyance dengan cukup baik, kemungkinan besar anda akan dapat mempraktekkan sebagian atau seluruh teknik yang saya bahas dalam buku ini. Bila anda mencoba mempraktekkan sesuatu dan mengalami kegagalan, ulangi lagi sampai anda bisa. Kalau anda bertanya, seberapa sulitnya bagi saya untuk dapat melakukannya, jawabannya adalah: sangat sulit, karena sebenarnya saya termasuk orang yang kurang berbakat dalam penggunaan energi. Jadi kalau anda mengalami kesulitan dan berpikir «mengapa dia bisa?», itu adalah pikiran yang salah karena seharusnya anda berpikir «mengapa saya tidak bisa?».
Kembali saya tekankan bahwa jika anda BUKAN seorang yang MEMENTINGKAN LOGIKA, maka sebaiknya anda TIDAK MEMBACA bagian selanjutnya. Bila anda tetap ngotot membaca dan kemudian merasa kenyamanan hidup anda terganggu oleh karenanya, saya hanya bisa mengatakan bahwa ANDA SUDAH DIPERINGATKAN.
PROLOGUE
Aku melihat sebuah gerbang yang bersinar putih, berbentuk segi empat dengan dua lengkungan membusur diatasnya. Gerbang tak berpintu tersebut mengarah ke tangga yang seperti terbuat dari perak dan begitu melangkah naik ke tangga, suatu energi dalam bentuk cahaya lembut terasa menarik keatas. Setelah memasrahkan diri, tarikannya semakin kuat dan akhirnya membawaku melayang melampaui tangga-tangga dengan kecepatan yang makin tinggi, hingga tiba-tiba semua tangga menghilang dan aku berada di sebuah terowongan yang agak gelap namun berpendar-pendar antara merah dan ungu. Dalam beberapa detik terlihat secercah cahaya putih dikejauhan, yang tampak membesar dengan cepat sampai terlihat sebagai suatu jalan keluar yang lumayan luas. Tarikan energi serasa mengendur, terowongan berpendar tiba-tiba hilang dan aku tiba-tiba terjatuh diatas dasar yang padat; jatuhnya memang tidak tinggi, tetapi karena tidak siap aku sempat terhuyung-huyung. Belum lepas kebingunganku, aku seperti mendengar suatu suara, hampir seperti orang berbicara tetapi lebih berat dan datar, dan terdengarnya bukan di kuping melainkan didekat bagian tengah kepalaku. Aku diam dan berusaha mendengarkan suara tersebut tapi aku tidak mengerti sama sekali sebenarnya suara apa itu; tiba-tiba didepanku muncul seberkas cahaya dan suatu sosok yang bercahaya putih berpendar biru tiba-tiba tampak di hadapanku. Aku tersentak kaget dan kesadaranku tertarik kembali kedalam tubuhku. Aku membuka mataku dan aku masih berada di ruang tamu rumahku, namun di dalam kepalaku masih terngiang suara yang tiba-tiba saja berubah seakan dalam bahasa Inggris namun tanpa intonasi «Welcome to my palace, the heart of the moon».
Kejadian itu sudah lama, bahkan sebelum saya mengenal istilah aura dan cakra, apalagi clairvoyance. Pada waktu itu saya sedang berusaha mempelajari teknik Kaballah dan suatu teknik lain yang berasal dari Sumeria, dalam usaha saya untuk memahami berbagai mimpi dan flashback yang saya alami (baca clairvoyance 1 dan 2). Pengalaman itu memang tidak membuat saya memahami teknik clairvoyance, tetapi setelah memahami teknik clairvoyance, pengalaman itu saya jadikan titik awal dari suatu perjalanan bagi saya untuk dapat memahami lebih dalam tentang dunia, jauh lebih dalam dari yang pernah saya baca dalam buku-buku fisika dan jauh lebih menakjubkan dari yang pernah saya baca dari komik dan dongeng.
BAB I - DIMENSI
Dimensi bukanlah suatu yang ajaib atau aneh; dimensi adalah aspek dari sesuatu hal atau benda, yang dapat membedakannya dari hal atau benda lain. Dalam matematika, dimensi adalah koordinat; dalam fisika, dimensi adalah ukuran dan waktu; tetapi dimensi yang akan saya ceritakan kepada anda adalah pengertian dimensi yang lebih luas dan bervariasi.
- Dimensi pertama: ukuran.
Besar-kecil, tinggi-rendah, tua-muda, dsb. Persepsi terhadap dimensi pertama tergantung dari cakra dasar. - Dimensi kedua: bentuk.
Bulat, lonjong, lurus, dsb. Persepsi terhadap dimensi kedua tergantung dari cakra seks - Dimensi ketiga: momentum
Berat-ringan, cepat-lambat, diam-bergerak, dsb. Persepsi terhadap dimensi ketiga tergantung dari cakra solar plexus - Dimensi keempat: iluminasi
Warna, kecerahan, kejernihan, dsb. Persepsi terhadap dimensi keempat tergantung dari cakra jantung - Dimensi kelima: vibrasi
Bunyi, kepadatan, rasa, aroma, dsb. Persepsi terhadap dimensi kelima tergantung dari cakra tenggorokan. - Dimensi keenam: bayangan
Antara bayangan dengan kenyataan yang sebenarnya. Persepsi terhadap dimensi keenam tergantung dari cakra ajna. - Dimensi ketujuh: waktu
Waktu adalah waktu, bukan jam dan bukan sesuatu yang dapat diukur dengan suatu ukuran yang pasti. Persepsi terhadap dimensi ketujuh tergantung dari cakra mahkota.
Dari ketujuh dimensi diatas, dimensi pertama sampai dimensi kelima adalah hal-hal sehari-hari dan mudah ditelusuri dengan panca indera, jadi saya rasa tidak perlu dibahas lebih jauh. Dimensi keenam dan ketujuh tidak berhubungan langsung dengan panca indera, maka saya akan membahasnya agar untuk selanjutnya kisah saya dapat dimengerti dengan baik.
Dimensi keenam adalah bayangan yang ada dalam pikiran kita.
Sebagai contoh, kita mungkin mengingat seorang kerabat atau sahabat yang sewaktu terakhir kali bertemu masih remaja; setelah bertahun-tahun berlalu, setiap kali membicarakan orang tersebut, gambaran yang muncul pasti adalah gambaran yang ada dalam ingatan kita di sekitar waktu terakhir bertemu, sehingga kita sedikit banyak akan merasa terkejut apabila mendapat berita bahwa orang tersebut sudah punya cucu, apalagi bila dikabarkan meninggal akibat serangan jantung atau penyakit lainnya yang biasa menyerang orang yang sudah berusia cukup tua.
Contoh diatas hanya sekedar untuk membentuk pemahaman tentang bayangan dalam pikiran. Sebenarnya sepanjang kehidupan kita, semua hal yang kita temui membentuk bayangan dalam pikiran kita. Rumah, perabot, keluarga, teman, jalan raya, kendaraan, bahkan binatang dan pepohonan, semua membentuk bayangan dalam pikiran kita; selanjutnya jika suatu bayangan yang sama telah terbentuk berulang kali, muncullah perasaan «terbiasa» dan bila telah terbentuk terlalu sering, muncullah perasaan «jenuh».
Yang paling menarik, bayangan yang dihasilkan oleh hal-hal dan objek-objek nyata tidak memiliki suatu ciri khas yang membuatnya berbeda dari bayangan yang dihasilkan oleh khayalan atau cerita yang didengar / dibaca. Inilah sebabnya bagi seseorang yang sering mendengar cerita yang mendetil tentang sebuah tempat yang amat indah, bayangan tentang tempat itu akan sama «nyata» nya dengan bayangan tentang rumah dan kota yang dilihatnya setiap hari. Bila orang itu kemudian mulai berharap bahwa suatu hari ia bisa berada di tempat yang indah tersebut, maka semakin lama ia akan semakin terdorong untuk membangun kehidupannya diseputar harapannya; jika keseluruhan hidupnya sudah «tertumpu» pada harapan itu, maka bila suatu hari ada orang yang datang dan mengatakan padanya bahwa tempat yang indah itu sebenarnya tidak ada, ia tidak akan bersedia menerima informasi tersebut sebagai kebenaran walau berapa banyak fakta dan bukti yang disodorkan kepadanya, karena untuk dirinya, tempat itu nyata dan segala sesuatu yang bertentangan dengan «kenyataan» yang ada dalam pikirannya adalah kebohongan.
Efek ini juga berlaku sebaliknya, yakni bila seseorang sering mendengar cerita bahwa ada suatu hal yang merupakan kebohongan, maka dalam pikirannya akan muncul suatu «anti bayangan» mengenai hal itu, dan bila ia sudah menumpukan keseluruhan hidupnya pada «anti bayangan» tersebut, maka walaupun ia lalu melihat hal itu dengan matanya sendiri, ia akan mengabaikannya sebagai tipuan atau khayalan yang telah berusaha mempengaruhi dirinya.
Dimensi ketujuh adalah waktu. Waktu adalah sesuatu yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata dan hanya dapat dipahami dengan suatu pengertian.
Selama ini yang kita kenal sebagai waktu bukanlah waktu itu sendiri melainkan persepsi perbandingan antara perubahan yang kita alami, dengan perubahan yang terjadi di sekeliling kita. Dunia ilmiah menganggap bahwa waktu adalah sama dengan jam, sehingga mereka menganggap detik sebagai suatu satuan pengukur waktu, padahal detik bukanlah satuan pengukur waktu, melainkan satuan pengukur rotasi bumi. Mereka beranjak dari suatu definisi kuno dari Sumeria bahwa rotasi bumi dibagi atas 4 bagian, yakni matahari terbit, siang hari, matahari terbenam dan tengah malam, lalu masing-masingnya dibagi 6, hasilnya dibagi lagi menjadi 60 dan masih dibagi lagi menjadi 60 (karena sistim angka Sumeria berbasis 6 dan 60) sehingga didapatkan bahwa 1 hari adalah 86400 detik. Setelah memasuki jaman modern, timbul obsesi untuk membuat jam yang sangat akurat, maka dibuatlah jam atom, dan satu detik didefinisikan ulang sebagai waktu yang dibutuhkan untuk atom Caesium-133 untuk menghasilkan 9,192,631,770 radiasi berkala. Akibat dari perubahan definisi ini, timbul suatu pernyataan baru bahwa satu kali rotasi bumi tidaklah selalu memakan waktu 86400 detik, melainkan selalu berubah-ubah tergantung posisi bumi dalam lintasannya mengelilingi matahari.
Lebih parah lagi adalah teori Einstein yang mengatakan bahwa suatu objek yang kecepatannya mendekati kecepatan cahaya, relatif terhadap suatu massa gravitasi, akan mengalami dilasi waktu, dimana jam yang berada di objek yang bergerak tersebut akan terlihat bergerak lebih lambat daripada jam yang berada di massa gravitasi, bila diamati oleh seorang pengamat yang berada di massa gravitasi. Teori ini didukung oleh mayoritas ilmuwan saat ini dan dianggap sebagai suatu kebenaran sehingga muncullah berbagai teori tentang perjalanan waktu. Sangat disayangkan bahwa teori ini melupakan bahwa yang mereka ukur adalah JAM, BUKAN WAKTU. Jadi yang mengalami dilasi itu adalah persepsi dari pengamat, bukan waktu itu sendiri.
Sebagai contoh yang lebih sederhana, mengapa pada saat kita sedang menunggu sesuatu, waktu terasa berjalan lebih lambat? Apalagi jika dibandingkan dengan ketika sedang menonton film yang seru, 30 menit menunggu bisa terasa sama lamanya atau bahkan lebih lama dibandingkan dengan menonton film yang seru selama 1 jam. Ini karena sewaktu menunggu, kesadaran kita cenderung diam di tempat, sementara dunia berubah dengan kecepatan tetap, sehingga dalam persepsi kita perubahan waktu di dunia serasa melambat; sedangkan sewaktu menonton film seru, kesadaran kita sangat aktif berpindah-pindah sesuai dengan cerita film tersebut, sementara dunia berubah dengan kecepatan tetap, sehingga dalam persepsi kita perubahan waktu di dunia serasa menjadi cepat. Namun kenyataannya tidak peduli apakah kita sedang menunggu, menonton film seru, naik pesawat berkecepatan sangat tinggi ataupun menjadi pengamat pesawat tersebut dari bumi, perubahan waktu untuk seluruh dunia tetap sama, dan itu berarti termasuk perubahan waktu untuk kita.
BAB II PERTEMPURAN DEMI BUMI
26 Desember 2004, gempa besar mengguncang Samudra Hindia, menghasilkan tsunami yang meluluh lantakkan Aceh. Berbagai spekulasi bermunculan tentang penyebab gempa tersebut, akan tetapi seperti biasanya, tidak ada yang bisa memberikan penjelasan «mengapa harus disana» dan «mengapa bisa sebesar itu». Ada yang menganggapnya sebagai gejala alam, ada yang menganggapnya sebagai peringatan dari Allah, namun saya tahu penyebab sebenarnya, yakni suatu tindakan «penyelesaian masalah» yang juga sekaligus merupakan «unjuk kekuatan» dari suatu sosok yang sebelumnya pernah hampir membunuh saya.
Pertempuran pertama: 4 vs 1
Kembali ke beberapa bulan sebelumnya, di sekitar bulan Agustus 2004, terjadi peningkatan keaktifan yang hampir serentak pada 14 dari gunung berapi yang ada di Indonesia. Waktu itu BMG Indonesia tidak banyak berkomentar karena mengkhawatirkan terjadinya panik massal, tapi mereka diam-diam mengadakan beberapa kali pertemuan darurat. Saya merasakan peningkatan aktifitas itu dari hawa bumi yang setiap hari menjadi semakin panas dan dengan melihat fluktuasi pola energi bumi saya tahu ada yang tidak wajar; ini bukan gejala alam yang normal. Selama beberapa minggu saya berusaha mengamati perubahan pola energi bumi dan akhirnya saya tahu bahwa perubahan tersebut disebabkan oleh adanya aliran energi terus menerus yang menyebar ke gunung-gunung yang mengalami peningkatan aktifitas, dan aliran energi tersebut berasal dari satu titik. Sewaktu saya berusaha melihat sumber energi tersebut, saya terkesiap karena yang terlihat oleh saya adalah suatu sosok silhouet seorang wanita, yang dari bentuk silhouetnya dapat diperkirakan usianya baru beranjak dewasa.
Selama 3 hari berikutnya saya susah tidur karena saya teringat tentang kisah suatu entitas yang memiliki energi luar biasa namun memiliki cara berpikir yang sangat berbeda dari manusia. Dari sudut pandang manusia, cara berpikir entitas ini akan dianggap sangat kejam, dapi dari sudut pandang dia sendiri, dia menganggap dirinya sangat baik dan ingin mengakhiri penderitaan manusia. Contoh nyata adalah perdamaian di Aceh, yang 4 presiden tidak mampu mewujudkannya, dapat diakhirinya hanya dengan satu tindakan, tsunami. Namun waktu itu, gempa besar tersebut belum terjadi dan apabila 14 gunung berapi tersebut meletus bersamaan, efeknya tidak hanya berbahaya bagi manusia, namun juga bagi bumi, terutama apabila gunung raksasa di bawah tanah yang diatasnya berdiri gunung Sumeru ikut meletus, itu akan mengakibatkan kerusakan yang luar biasa di kerak bumi. Saya merasa bahwa saya harus mencegahnya, tapi saya tidak punya ide bagaimana caranya.
Pada waktu hampir subuh di hari keempat, saya merasakan pikiran saya tiba-tiba seperti penuh walau saya tidak tahu apa yang pikirkan. Karena merasa pening, saya menutup mata dan mencoba untuk tidur. Pada saat itulah, tiba tiba muncul suatu gambaran di pikiran saya, dimana saya melihat aliran energi yang sedang mengalir ke gunung-gunung tersebut, tiba-tiba diganggu oleh 4 aliran energi lain yang lebih kecil. Walaupun energi yang mengganggu lebih kecil, namun energi yang besar menjadi tidak stabil dan akhirnya buyar. Gambaran itu muncul berulang-ulang dan semakin lama semakin menekankan pada salah satu aliran energi yang kecil tersebut, sampai akhirnya timbul pikiran saya «mungkin maksudnya yang itu energi saya?». Seketika itu juga gambaran itu berubah fokus dan memfokuskan pada gambaran 3 matahari yang bersinar bersamaan. Saya berpikir «tiga hari lagi?» dan gambaran berubah, terfokus pada satu matahari yang terlihat berada tegak lurus dibawah titik dimana keempat energi kecil tersebut menubruk energi yang besar; saya pun langsung berpikir «tengah malam?» dan gambaran tersebut mulai memudar lalu hilang. Itu adalah pertama kalinya saya menerima komunikasi secara telepati yang jelas dan mudah dimengerti.
Tiga hari kemudian, mendekati tengah malam, saya bersiap-siap dengan duduk tenang dan menutup mata. Benar saja, tidak lama muncul kembali gambaran energi besar tersebut, lalu terlihat satu energi kecil memancar keatas, disusul energi kedua dan ketiga. Saya yakin, mereka pasti menunggu saya, jadi saya arahkan kedua telapak tangan saya keatas dan berusaha mengerahkan energi saya keatas sebisa mungkin. Tampak jelas dalam gambaran tersebut bahwa energi saya paling kecil dan memancarnya pun paling rendah. Kemudian ketiga energi lain berubah menjadi bentuk bola yang lumayan besar, yang masing-masingnya berkedip perlahan. Saya berusaha mengikuti perubahan tersebut tapi mengalami kesulitan. Pada kedipan ketiga terlihat ketiga energi yang ada serentak melaju menuju titik pertemuan yang sudah digambarkan sebelumnya, maka sayapun buru-buru meniatkan mengerahkan seluruh energi yang dapat saya kerahkan, ke titik tersebut.
Terjadi benturan dengan energi besar, saya merasa seluruh tubuh saya tiba-tiba kepanasan, tapi lalu tiba-tiba dingin menggigil, lalu panas lagi. Saya rasa hal itu berlangsung selama sekitar 2 menit, lalu energi besar tampak tidak stabil dan mulai buyar. Setelah mulai buyar, tiba-tiba energi besar menghilang dan muncul 4 bola energi dari sumber tersebut, 3 bola energi besar dan satu bola energi kecil, yang kemudian meluncur dengan cepat ke arah masing-masing sumber ke 4 energi kecil. Saya kaget dan buru-buru menarik energi saya dan memusatkannya di telapak tangan saya dalam posisi menahan. Gambaran yang muncul di pikiran saya tiba-tiba lenyap tapi saya masih sempat melihat bagaimana salah satu bola energi meledak di sumber energi kecil yang berada di Utara. Tiba-tiba saya merasa sesak dan dada saya sakit sekali, rasanya lebih sakit daripada waktu saya kecelakaan sepeda motor. Saya melakukan pengecekan secara clairvoyance dan ternyata tulang tengah dada saya mengalami keretakan kecil; suatu cedera yang entah karena apa, sampai hari ini pun tidak dapat saya sembuhkan dengan sempurna.
Misi kami berhasil, ke 14 gunung berapi aktivitasnya menurun dengan serentak, akan tetapi saat itupun saya yakin akan dua hal, yakni bahwa minimal salah satu dari kami berempat ada yang meninggal malam itu, dan bahwa kejadian gunung berapi tersebut suatu hari akan terulang lagi. Tentu saja, kejadian ini tidak bisa saya buktikan secara empiris mengingat waktu itu tidak ada catatan publikasinya. Akan tetapi, pertempuran kedua yang akan saya ceritakan selanjutnya, adalah pertempuran yang melibatkan lebih dari seribu orang, serta terdokumentasi dengan baik.
Pertempuran kedua: 1000 vs 1
-----------------------
Sebelum dilanjutkan, saya cek dulu, masih pada minat ga, membaca kelanjutannya? Di «like» lagi ya, kali ini URL versi bahasa Indonesia saja yang dihitung ya. Tempo hari kalau ditotalin angkanya 220, mari kita lihat apakah itu angka karena dobel ngeklik atau gimana. Minimal 150 «like» buat lanjut ya
Baiklah, berhubung «like» nya sudah > 150, sesuai janji diatas, buku ini akan dilanjutkan penulisannya. Kelanjutannya akan dibuat di posting baru sebagai bagian 2.

Write a comment
If you want to add your comment on this post, simply fill out the next form:
* Required fields
You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>.
7 comments
1 month and 22 days ago
lanjut pak ceritanya, memang sebaiknya diistilahkan sebagai dongeng walaupun itu sebenarnya kenyataan di alam kasat mata, untuk menghindari friksi dikalangan saudara-saudara kita yang tidak sefaham pengetahuan dan keyakinanya. Namanya juga dongeng....tapi bagi yang yakin...ya itulah kenyataannya. Diterima ataupun ditolak.....biarkan saja dia seperti adanya.......hanya dongeng. Lanjut pak.....
8 months and 21 days ago
seru nih ceritanya pa ir.
lanjutkan.
11 months and 12 days ago
L A N J U T ...............................................! CERITANYA
11 months and 12 days ago
He..he...betull.. yg anda sampekan itu memang dongeng. Di aqidah kami...hal semacam itu sering kita diskusikan...sederhana saja fenomenanya.. dan hati2...hal itu bisa mengarah ke syirik...krn iblis laknatullah akan terlibat didalamnya...!! selamat meneruskan dongengnya..!!
11 months and 16 days ago
Mengenai gunung api, saya pribadi kemungkinan bisa mengira sosok2 (silhouet)nya dan siapa yg meninggal?Tapi biarlah saya simpan dipikiran saya sendiri aja.Silahkan dilanjutkan, Pak?saya tunggu!
11 months and 16 days ago
Berdasarkan cerita-cerita yg saya dapatkan dari orang-orang tertentu
bahwa suatu medan tertentu di bumi , entah itu gunung & laut kadang dipengaruhi oleh entitas mahluk «?» Termasuk pola iklim dan perubahan cuaca.
Benar atau tidak saya tidak tahu , saya dapatkan ceritanya dari orang-orang yg menekuni
kehidupan spiritual yg tekun , paling sedikit mereka sudah bisa melihat aura.
11 months and 16 days ago
wah seru banget pengalaman p irwan.jd penasaran kan sambungannya.he he sy pun pernah dpt misi yg ringan banget tp berat bagi sy krn banyak yg tak percaya. akhirnya meletus lah bom jw m yg terakhir kmrn. ok sy tunggu lanjutan nya hingga sy bisa memetik ilmu yg lebih banyak lg dr p irwan. trims.
No trackbacks
To notify a mention on this post in your blog, enable automated notification (Options > Discussion in WordPress) or specify this trackback url: http://waskitareikippa.com/lang/id/diktat-buku/clairvoyance-3-gerbang-dimensi-isi-buku/trackback