Yayasan Waskita Reiki Pusat Penyembuhan Alami: Yayasan Waskita Reiki Pusat Penyembuhan Alami

Clairvoyance 3: Gerbang Dimensi - Bagian 3

10 months and 23 days ago
By Irwan Effendi

5000 vs nuklir

11 Maret 2011, Jepang diguncang oleh gempa bumi yang memicu terjadinya tsunami yang cukup besar. Ini adalah murni gejala alam dan tadinya saya membaca beritanya hanya sambil lalu. Tapi beberapa jam setelah berita tentang tsunami, muncul berita lain yang lebih menarik perhatian, yakni kerusakan pembangkit listrik tenaga nuklir, akibat dihantam oleh tsunami. Masalah dengan reaktor nuklir ini adalah hal yang penting karena berpotensi menyebabkan kerusakan lingkungan yang cukup parah, dan penyebabnya adalah kelalaian manusia, bukan alam.
Selama 5 hari berikutnya saya terus memonitor perkembangan usaha pemerintah Jepang dalam mengatasi krisis tersebut tapi dari rentetan berita yang saya baca, jelas terlihat bahwa mereka semakin kewalahan. Akhirnya tanggal 17 Maret 2011, saya memutuskan untuk melakukan himbauan lagi untuk melakukan transfer energi bersama, kali ini dengan tujuan menurunkan tingkat radioaktif dari reaktor nuklir yang mengalami kebocoran. Dari awal saya tidak merasa yakin bahwa gabungan energi dari 1000-an praktisi akan cukup untuk keperluan ini, maka himbauan saya tulis juga dalam bahasa inggris dan saya posting ke berbagai group reiki di facebook serta di beberapa blog yang berhubung dengan Reiki. Sehubungan dengan pengalaman sebelumnya, saya mengingatkan agar semuanya tidak mengirimkan secara langsung melainkan sinkron (menyerahkan energinya) ke saya. Transfer energi dijadwalkan 2 kali hari jumat dan sekali di hari Sabtu.
Pada saat transfer sesi pertama dilakukan, aliran energi yang saya terima dua kali lipat dari transfer hari terakhir sewaktu mencegah letusan gunung berapi, jadi saya perkirakan ada sekitar 2000 orang yang mengirimkan energi. Saya mulai menyalurkan energi yang terkumpul ke reaktor nuklir dengan teknik yang sama yang saya lakukan seperti waktu mematahkan energi yang menganggu gunung berapi, tetapi setelah berlalu sekitar 10 menit, tidak terasa ada perubahan apapun, bahkan tidak ada getaran feedback sama sekali, suatu hal yang aneh karena biasanya apabila energi dikirimkan dengan pengendalian dan bukan dengan pasrah, feedback selalu terjadi. Saya lalu berkesimpulan bahwa teknik tersebut tidak efektif dalam kasus ini, jadi saya mencoba teknik lain, yakni dengan menganggap bahwa reaktor nuklir tersebut adalah pasien yang sedang demam dan berusaha melakukan «terapi» menurunkan panas. Saya mulai merasakan bahwa aliran energi kali ini mencapai sasaran dan muncul sedikit gelombang feedback, namun sayangnya waktu transfer yang disepakati sudah hampir habis dan baru sekitar 2 atau 3 menit, aliran energi yang saya terima berkurang dengan cepat, lalu berhenti.
Keesokan paginya, pada sesi transfer kedua, transfer energi yang saya terima sedikit lebih lemah daripada sebelumnya. Saya langsung menggunakan teknik terapi dan saya merasakan bahwa secara keseluruhan, efek transfer di sesi kedua kurang lebih sama dengan sesi pertama. Hal ini membuat saya khawatir bahwa transfer energi ini akan berakhir sia-sia, maka saya menambahkan posting di beberapa mailing list yang berhubungan dengan Reiki, dengan harapan bahwa pada sesi transfer ketiga, akan lebih banyak lagi yang berpartisipasi.
Harapan saya terpenuhi. Malam harinya, bahkan 1 jam sebelum waktu transfer yang ditentukan, sudah mulai terasa adanya aliran transfer energi, yang saya duga berasal dari negara lain dan waktunya meleset karena mereka salah memperhitungkan selisih waktu. 15 menit sebelum waktu yang ditentukan, energi mulai membanjir sehingga saya memutuskan untuk mulai melakukan transfer dan sampai pada waktunya, aliran energi yang masuk sedemikian besarnya sehingga saya merasa kepala saya seakan membengkak, serta bahu saya sangat berat. Energi yang mengalir lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan sesi transfer pertama dan merasakan energi yang demikian besar, saya memutuskan untuk mengubah teknik transfer dan melakukan sesuatu yang sedikit nekat untuk memanfaatkan semaksimal mungkin aliran energi yang saya terima. Saya melakukan teknik visualisasi yang digabungkan dengan teknik gerbang dimensi, untuk membuat agar keberadaan saya seakan berada di kompleks reaktor yang bermasalah. Saya lalu mentransfer semua energi yang saya terima dan memaksa jalur energi saya melebar semaksimal mungkin agar semua energi itu dapat tersalurkan secepat datangnya. Dalam hitungan detik, saya dapat merasakan hawa panas yang menyengat mulai merasuki kulit saya, perut saya serasa kembung dan saya mulai merasa mual; setelah sekitar satu menit saya mulai pusing dan pandangan saya mulai kabur. Saya sadar bahwa saya mengalami efek-efek yang sama yang dirasakan oleh seorang yang terpapar pada radiasi nuklir, namun saya juga tahu bahwa saya tidak benar-benar terkena radiasi, hanya energi di tubuh saya terganggu dengan efek yang sama, jadi saya pertahankan transfer energi pada posisi tersebut. Setelah sekitar 5 menit, saya melihat bahwa energi berwarna merah di semua reaktor mulai berkurang dan hawa panas yang saya rasakan mulai berkurang. Perubahan ini membuat saya semangat untuk tetap bertahan walaupun sebenarnya saya sudah mulai lemas dan seluruh tubuh saya menggigil karena rasa ngilu di tulang-tulang saya. Menit demi menit berlalu dan saya berusaha untuk bertahan dalam melakukan transfer, sampai akhirnya saya merasakan bahwa aliran energi yang masuk mulai berkurang dan sayapun menghentikan transfer energi, lalu ambruk sambil menahan sakit.
Rasa mual, ngilu, pusing, serta pandangan kabur, tidak hilang dengan cepat. Butuh waktu sekitar 3 hari untuk efeknya berkurang sampai taraf tidak terlalu mengganggu dan butuh seminggu untuk benar-benar hilang, tapi saya merasa bahwa itu adalah resiko yang seimbang dengan hasilnya. Pagi di hari setelah transfer sesi ketiga, saya membuat posting ucapan terimakasih dan menginformasikan bahwa transfer energi telah berhasil menurunkan tingkat radioaktifitas 45 - 50 persen dari sebelumnya dan hal ini kemudian dikonfirmasikan oleh berita yang muncul di siang harinya di salah satu website berita luar negeri, bahwa temperatur di reaktor nuklir pagi itu jauh lebih rendah daripada yang diperkirakan sebelumnya. Tentu saja ini bukan berarti saya mengklaim telah menghentikan krisis nuklir di Jepang; orang-orang Jepang sendirilah yang telah memperbaiki kesalahan mereka; akan tetapi saya merasa puas karena ternyata banyak praktisi Reiki yang peduli dan berpartisipasi, ini adalah salah satu bukti kecil bahwa manusia masih punya harapan dan masih pantas untuk dibantu. Juga, setidaknya kita telah memberikan ekstra waktu beberapa jam dan ekstra semangat pada para pekerja disana untuk dapat melanjutkan perjuangan mereka.

BAB 3 ANTARA BAYANGAN DAN KENYATAAN

Pada tahun 1995, sewaktu sedang ramai-ramainya berita masuknya berbagai jenis narkotika baru ke Indonesia, saya pernah mengajukan pertanyaan ini: Ada dua orang anak kembar identik, kita sebut saja Amir dan Amin.
Pada suatu hari, di usia 17 tahun, keduanya diajak oleh teman-teman mereka masuk ke sebuah diskotik dan disana dicekoki dengan narkoba. Amir overdosis dan mengalami koma, sedangkan Amin yang melihat saudaranya koma, langsung trauma dan tidak pernah lagi menyentuh narkoba. Seminggu kemudian Amir meninggal, sedangkan Amin melanjutkan hidupnya sampai bekeluarga, punya anak, cucu dan meninggal dalam usia lanjut saat sedang tertidur. Yang tidak diketahui orang adalah, bahwa selama seminggu koma, Amir bermimpi bahwa ia
melanjutkan hidupnya sampai bekeluarga, punya anak, cucu dan meninggal dalam usia lanjut saat sedang tertidur, yang mana saatnya jatuh bertepatan dengan saat ia benar-benar meninggal. Nah, diantara Amir dan Amin, yang mana yang lebih berbahagia pada saat meninggal?

Tidak ada satupun orang yang saya tanyakan pertanyaan itu mampu memberikan jawaban yang logis, ketika saya tanyakan pada tokoh agama, mereka menjawab dengan dalil-dalil agama yang mereka sendiri pun tidak mampu menjelaskan lebih jauh, sedangkan ketika saya tanyakan pada tokoh masyarakat, mereka malah ngotot bahwa pokoknya yang namanya narkoba pasti membuat sengsara; padahal, inti dari pertanyaan saya itu justru adalah bagaimana bisa membuktikan bahwa bayangan dan kenyataan itu berbeda? Jawaban dari pertanyaan ini baru saya dapatkan sendiri bertahun-tahun kemudian.

------------
bersambung ke bagian 4

Write a comment

If you want to add your comment on this post, simply fill out the next form:





* Required fields

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>.

3 comments

Gravatar #3. ignas mau
9 months and 26 days ago

oke pak. selamat kejar setoran. :) kami tetap tunggu kelanjutannya

Gravatar #2. Irwan Effendi
9 months and 27 days ago

belum sempat melanjutkan pak, harus kejar setoran dulu

Gravatar #1. Ignas mau
10 months ago

salam pak irwan. cerita pengalaman dan eksplorasi selanjutnya dari buku ini masih kami tunggu. saya semakin tertarik bagaimana kelanjutannya. tapi, saya mau bertanya, apakah yang bagian 4 juga menunggu 'like' hingga 150 seperti yang sebelumnya? masalahnya, sudah hampir 1 bulan angka 'like' tidak naik2 dari angka 31. atau 150 lebih 'jempol' yang sebelum ini sudah cukup?

No trackbacks

To notify a mention on this post in your blog, enable automated notification (Options > Discussion in WordPress) or specify this trackback url: http://​waskitareikippa.com/​lang/​id/​diktat-buku/​clairvoyance/​clairvoyance-3-gerbang-dimensi-bagian-3/​trackback